![]() |
| Friso Indonesia |
Tumbuh kembang anak usia 3 tahun baik-baik saja? Apakah ibu yakin? Ada banyak
sekali ibu yang merasa tidak ada masalah dengan pertumbuhan sang buah hati.
Mereka sudah memberikan susu anak terbaik, membelikan permainan sesuai dengan
usianya, dan lain sebagainya.
Apakah ibu juga membelikan gadget? Tentu tidak masalah asal tidak
kecanduan. Apabila sudah kecanduan, ibu pasti menyesal telah memperbolehkan
sang buah hati mengenal gadget. Dan pada saat tersebut, ibu harus bersusah
payah menghentikan dari kecanduan game.
Kebanyakan ibu tidak kuasa untuk tidak memberikan permainan berupa
gadget karena anak seusianya sudah mengenal gadget. Anak-anak usia 3 tahun saat
ini sudah lincah mengoperasikan gadget. Bahkan, terkadang ibu sendiri menjadi
gaptek dan si kecil sudah bisa browsing permainan atau game online.
Ketika kebanyakan anak demikian, ibu merasa hal tersebut wajar-wajar
saja? Ibu bisa mengetahui jawabannya ketika nanti anak lebih suka memainkan
gadget daripada berinterakasi dengan ayah dan ibunya dan justru jarang
beraktifitas yang membutuhkan gerakan fisik.
Tentu ibu bisa bayangkan apa jadinya jika si kecil hanya duduk di
kamar seharian melototi gadget. Padahal, tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh kegiatan fisik seperti berjalan,
berlari, dan berkomunikasi dengan orang lain.
Pada saat itulah ibu mungkin baru sadar ada yang salah dengan tumbuh
kembali buah hati dan ibu harus segera melakukan penanganan.
Para ibu mungkin bisa beralasan bahwa game yang ibu pilihkan merupakan
game yang baik untuk perkembangan otak sang anak. Tidak bisa dipungkiri bahwa
banyak sekali jenis game yang bisa mengasah kecerdasan anak.
Namun, apapun jenis gamenya, ibu pasti akan terkejut setelah
mengetahui hasil penelitian American
Psychological Association. Dari penelitian tersebut, dihasilkan sebuah
kesimpulan bahwa ada banyak sekali hal negatif dari kebiasaan bermain game terlepas
apakah game itu baik untuk kecerdasan otak atau hanya untuk kesenangan saja.
Salah satu sisi negatifnya adalah bahwa anak akan sering frustasi. Hal
ini dikarenakan anak lebih sering memainkan game dan dalam game pasti ada
menang dan kalah. Ada level tertentu yang harus diselesaikan oleh pemain (dalam
hal ini anak) dan tidak banyak yang bisa menyelesaikan level tertinggi. Jadi,
semakin sering anak main game maka semakin sering frustasi karena sering gagal.
Contoh tersebut hanya dilihat dari sisi psikologi saja. Bagaimana jika
dilihat dari faktor fisiknya. Ternyata, anak yang terlalu sering bermain game
dan bahkan kacanduan akan mengalami masalah kesehatan, seperti insomnia (karena
sering tidak tidur ketika malam), penyakit pada bagian leher, rabun jauh atau
dekat, dan lain sebagainya.
Dan ibu harus tahu, yang paling parah dari efek kecanduan bermain game
adalah anak susah bersosialisasi khususnya dengan orang baru. Hal ini
dikarenakan anak lebih sering asyik dengan dirinya sendiri bermain game dengan
gadgetnya.
Masih ingin membiarkan anak ibu terlalu sering bermain game? Akan
sangat bijak bila ibu bisa mengendalikan sang buah hati. Ibu bisa menjadwal
kapan si kecil boleh bermain game. Akan tetapi, ibu juga harus memberikan
alternatif permainan yang lain selain game dari gadget.
Tentunya ada banyak
permainan yang mengandalkan gerakan fisik yang juga bisa mencerdaskan otak sang
buah hati ibu. Dengan memberikan jenis permainan tersebut, ibu tidak perlu
khawatir lagi dengan tumbuh kembang anak.

No comments:
Post a Comment